Business

Games

Labels

Ads

Senin, 06 Februari 2017

SIANG DEMO BESAR DI MONAS! JUTAAN HISBUT TAHRIR INDONESIA SERUKAN STOP PEMIMPIN KAFIR YANG MENINDAS RAKYAT DAN SELALU KRIMINALISASI ULAMA

Ribuan jamaah Hizbut Tahrir melakukan aksi Haram Memilih Pemimpin Kafir di depan Taman Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (4/9/2016). Dalam aksinya Ribuan jamaah Hizbut Tahir mendesak kepada seluruh umat Islam yang khususnya di Jakarta untuk bersatu, bahu membahu berjuang menolak (calon) Kepimpinan kafir.
Jakarta (Panjimas.com) – Gerakan Mahasiswa Pembebasan  akan menggelar Aksi Umat Peduli Ahad (5/2) pagi di area Patung Kuda, Monas, Jakarta. Aksi tersebut mengangkat tema “Haram Pemimpin Kafir”, “Stop Kriminalisasi Ulama dan Ormas Islam”, dan “Hentikan Ulama”.
Ribuan jamaah Hizbut Tahrir melakukan aksi Haram Memilih Pemimpin Kafir di depan Taman Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (4/9/2016). Dalam aksinya Ribuan jamaah Hizbut Tahir mendesak kepada seluruh umat Islam yang khususnya di Jakarta untuk bersatu, bahu membahu berjuang menolak (calon) Kepimpinan kafir.


Dalam pernyataan sikap, mahasiswa menegaskan kembali untuk menolak pemimpin kafir penghina Al Qur’an. Penghinaan ini telah menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat Jakarta, masyarakat Indonesia, dan masyarakat dunia muslim lainnya.
Gerakan Mahasiswa Pembebasan sebagai gerakan mahasiswa yang menjadikan Islam sebagai landasan gerakan, merasa bertanggung jawab menjaga marwah agama ini tatkala Al-Qur’an dilecehkan oleh orang – orang kafir yang anti terhadap seruan dakwah Islam.
Sementara itu Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dalam situs resmi HTI, mengecam kriminalisasi ulama yang terjadi pasca Aksi Bela Islam 212. Ismail Yusanto, menduga ada kekuatan besar yang bermain dengan memanfaatkan aparat  kepolisian.
Kecenderungan kepolisian yang semakin represif juga dikhawatirkan Ismail. Menurutnya, polisi saat ini punya kewenangan yang yang melampau batas yang berbahaya karena akan digunakan sebagai alat politik  yang represif.
Ismail menyebutkan bentuk kriminalisasi ulama. Di Sintang, Kalimantan Barat, KH Tengku Zulkarnaen, Wakil Sekjen MUI Pusat, yang memenuhi undangan resmi Bupati Sintang, tiba-tiba dihadang oleh kelompok tertentu sambil mengacung-acungkan senjata tradisional di apron Bandara Sintang ketika hendak turun dari pesawat terbang.
KH Habib Rizieq Shihab terus-menerus dicari-cari kesalahannya. Beliau antara lain diminta untuk memenuhi panggilan Polda Jabar atas kasus yang diada-adakan. Saat pemeriksaan, terjadi kasus penyerangan FPI yang mengawal kehadiran Habib Rizieq Shihab oleh GMBI yang diduga kuat dihadirkan oleh Kapolda Jabar.
Pelecehan ulama juga dilakukan Ahok dan pengacaranya saat persidangan ke 8 yang menghadirkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai saksi. Di persidangan, Ahok melontarkan ucapan yang sangat kasar dan menyudutkan ulama. Ucapan Ahok dan kuasa hukumnya membuat warga NU dan umat Islam marah besar. (desastian)[SBR]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.